Majalah Hidup Sehat Vol 15: Oktober 2017 - Page 14

gangguan jiwa berat. Terapi supportif itu, misalnya; pelatihan keterampilan sosial, dapat digunakan untuk meningkatkan fungsi sosial dan pekerjaan. Peran Keluarga harus diikut sertakan, untuk mendukung penyembuhan penderita. Karena penyakit gangguan jiwa berat merupakan penyakit menahun, maka kesembuhan pasien sangat tergantung pada kedisiplinan penderita meminum obat. Penemuan terbaru Pencegahan Penyakit Gangguan Jiwa berat: Secara hipotesis oleh para pakar ilmu jiwa dan neurosains, dengan berasumsi pada kemampuan plastisitas jaringan saraf, perkembangan otak, dan fungsional kompensasi. Para ilmuwan memperkirakan bahwa pelatihan kognitif (cognition) yaitu proses kesadaran, mental dan termasuk aspek memori atau ingatan, kemampuan mengerti, dan pengambilan keputusan selama fase perkembangan otak, menjadi acuan dasar pencegahan atau menurunkan risiko para masyarakat yang memiliki risiko menderita gangguan jiwa berat. Untuk membuktikan keyakinan para ilmuwan tadi, hasil penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal (Neuron 23 August 2012, halaman 714–724), memberikan jawaban yang luar biasa. Dr. Lee, dan timnya; melaporkan, bahwa pada fase neonatal hewan coba yang terdapat kerusakan pada pusat saraf di otak (ventral hippocampus) sebagai model hewan penderita penyakit gangguan jiwa berat, yang diberi label (NVHL). Dan dengan menggunakan standar dan parameter khusus pada pelatihan kognitif (proses kesadaran dan mental, ingatan, pengertian, dan kemampuan pengambilan keputusan) sewaktu masih muda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: hewan coba yang mengalami pelatihan sejak fase neonatal atau fase muda: meningkatkan sikronisasi di otak, meningkatkan kemampuan bertindak dan kemampuan mengingat, kestabilan kondisi mental yang tidak berbeda atau memberikan hasil yang sama dengan control/normal. Berdasarkan hasil penelitian di atas, berarti penderita ataupun keturunan, anak dan bayi-bayi yang terlahir dari keluarga penderita gangguan jiwa berat, ataupun mengalami gangguan akibat kerusakan di otak sejak kecil yang memiliki kecenderungan menderita gangguan jiwa berat setelah dewasa. Pada prinsipnya bisa dilakukan tindakan pencegahan (Profilaksis), dengan melakukan pelatihan kognitif sejak masa muda/remaja. Sehinga pada saat berkembang menjadi dewasa tidak lagi menderita gangguan jiwa berat. Hal ini akan membantu mengurangi biaya pengobatan, mengurangi kerugian akibat penderitaannya. Olehnya, sudah saatnya aspek tindakan preventif dan pencegahan perlu digalakkan di Indonesia, sebagai Negara dengan penduduk tertinggi menderita gangguan jiwa berat. (Dr. Ikrar) Penatalaksanaan dan pengobatan penderita penyakit jiwa berat di Rumah Sakit Jiwa. 14 | MAJALAH HIDUP SEHAT Oktober 2017