Majalah Digital Kabari Vol: 64 Juni - Juli 2012 - Page 8

[indonesia] idealis seperti Garin Nugroho dengan filmnya Daun di atas Bantal. Film ini, meski kurang diminati di negeri sendiri, mendapat penghargaan di luar negeri. Film yang diproduksi tahun 1998 ini sempat terhenti pembuatannya akibat krisis ekonomi, tetapi akhirnya diselesaikan di Australia. Film itu tampaknya menjadi pembuka jalan bagi film Indonesia untuk tampil di dunia internasional. Terbukti sejak reformasi 1998, dunia perfilman mulai bangkit dengan tema-tema film idealis dan bermutu mendapat tempat layak dibanding sebelumnya. Tercatat ada film Ada apa dengan Cinta, yang mengangkat tema cinta remaja tetapi diwarnai keindahan kemanusiaan yang bagus. Film ini sukses dengan jumlah penonton yang luar biasa banyak. Berbagai macam film, mulai yang ringan (humor dan horor) hingga bertema serius, penuh kritik sosial dan punya nilai pendidikan serta penyadaran, tampil dalam panggung perfilman nasional. Film-film itu juga laris di pasaran antara lain: Petualangan Sherina, Jaelangkung, Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Laskar Pelangi maupun Naga Bonar Jadi 2, Merantau, dan lain-lain. Bila ukurannya penghargaan, pada tingkat dunia sebenarnya telah lama film kita mampu bicara. Misalnya, film Pasir Berbisik yang dibintangi aktris senior Christine Hakim dengan aktris muda kala itu, Dian Sastrowardoyo, mampu meraih penghargaan internasional, seperti Best Cinematography Award, Best Sound Award, dan Jury’s Special Award for Most Promising Director untuk Festival Film Asia Pacific 2001, artis wanita terbaik, Festival Film Asiatique Deauville 2002. 8 | KabariNews.com Film itu juga meraih artis wanita terbaik pada Festival Film Antarbangsa Singapura ke-15. Film berjenis horor Pintu Terlarang pada tahun 2009 juga menerima penghargaan internasional. Juga film Laskar Pelangi yang disutradarai Riri Riza juga diputar di Barcelona, Asian Film Festival 2009 di Spanyol, Singapore International Film Festival 2009, 11th Udine Far East Film Festival di Italia, dan Los Angeles Asia Pacific Film Festival 2009 di AS. Kebanggaan besar layak ditujukan pada film The Raid yang belakangan mendapatkan apresiasi luar biasa, karena menembus pasar internasional. Film The Raid yang ditayangkan perdana di Hollywood, Kanada dan Australia segera mendapat sambutan luar biasa dari kalangan perfilman dunia. Sebelum beredar di bioskop, The Raid yang diproduksi tahun 2011 telah meraih berbagai penghargaan di per filman internasional, seperti Cadillacs People’s Choice Award, Toronto International Film Festival 2011, dan The Best Film sekaligus Audience Award di Jameson Dublin International Film Festival 2012. Film ini menjadi salah satu karya yang paling disukai panitia Festival film Sundance 2012. Memang harus diakui, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan untuk membangun industri film nasional yang agak terbelakang dibanding industri film negara lain. Di tingkatan Asia saja, dunia perfilman kita masih jauh dengan India dan Hongkong. Belum lagi jika dihadapkan dengan film Thailand yang luar biasa pesat kemajuan dan kualitasnya. Apalagi dengan produksi film Korea yang belakangan mulai disadari telah menjadi gelombang besar dengan produk budayanya, Korean Waves (Hallyu) atau Korean Pop (K-Pop) yang juga amat gencar menyerang kebudayaan kita. n (1002) Untuk share dan memberi komentar pada artikel ini, Klik www.KabariNews.com/?38230 Kabari Selalu Ikut Mendengar Pendapat Pembaca Since 2007 Kabari has grown to become the best Indonesian Media because of your input. Thank you, Kabari Fans.