Majalah Digital Kabari Vol: 64 Juni - Juli 2012 - Page 42

Kebetulan, ia paling suka makan buah. Makanya, waktu ikut menanam, ia berpikir bagaimana cara supaya pohon itu cepat berbuah. Diajaklah-pohon itu bicara, “Ayo mangga, cepat berbuah ya…” Ia mengambil suntikan ibunya, lalu mengisinya dengan air racikannya. Ini disebutnya vitamin. itu. Lembar demi lembar daun keladi dipakainya untuk menutup kakinya yang membusuk, bernanah dan berbelatung. Setelah beberapa hari dirawat, luka yang menganga di kakinya itu rapat, bengkaknya kempis dan ia bisa berjalan lagi. Sejak sembuh, lulusan Fakultas Sosial Ekonomi Agribisnis, Sekolah Tinggi Ilmu Per tanian Malang, Jawa Timur ini menggenapi niatnya menolong orang. Ilmu di bangku kuliah dipadunya dengan racikan ramuan masa kecil yang dibuatnya di plafon. Inilah lahirnya formula EKD yang memberi gizi (nutrisi) untuk kulit, menyembuhkan penyakit, hing ga mengalahkan virus flu burung. Di bidang pertanian, formula itu sebagai biang fermentasi bahan organik untuk membuat pupuk, pakan, biopestisida, dan bioherbisida. Umur 6 tahun tiga bulan, Ibu kandungnya meninggal. Bersyukur, ibu terus merawatnya dengan baik dan memberi lima adik. Tiap Jumat nenek dukun beranak dipanggil untuk memijat Ermina dengan memakai ramuan tertentu. Si Nenek membuat sendiri ramuan itu. Uniknya, setiap kali mengambil daun atau akar, mulutnya selalu komat-kamit, lalu menaburkan garam dan menaruh paku. Penasaran, Ermina bertanya, ternyata si Nenek minta izin pada pohon itu kalau ia mengambil daun dan akarnya untuk mengobati Ermina. Sedangkan paku dan garam sebagai penggantinya agar setan pohon itu tidak mengikuti Ermina. TITIK BALIK Singkat cerita, Ermina telah sehat, hingga tiba terjadi kecelakaan dahsyat yang menimpanya. Motornya ditabrak dari belakang hingga membuatnya terseret sejauh enam meter, lalu menabrak trotoar. Kakinya patah, perutnya melilit hingga tempurung kepalanya bergeser. Ingatannya selama 17 tahun hilang! Yang muncul di ingatannya, kala ia bermain racik-racikan di plafon. Semua peristiwa itu tergambar jelas mirip film. Sementara itu, minimnya pengobatan membuat kaki Ermina busuk sehingga dokter mengusulkan untuk dipotong (amputasi). Bahkan dokter telah mengukur dan menandai 48 cm bagian kakinya yang akan dipotong. Tahu akan rencana itu, Ermina berseru dalam hati, “Saya tidak boleh mati. Saya tidak boleh mati sebelum menolong banyak orang.” Ketika pagi itu memandang ke luar jendela, dilihatnya tanaman keladi yang bersinar diterpa sinar matahari. “Wah, ini obat untuk kaki saya,” ujarnya, gembira, lalu minta tolong sepupunya untuk mengambil daun 42 | KabariNews.com “Saya memperoleh formula EKD ini dari Tuhan, maka saya persembahkan untuk kebaikan alam dan sesama,” ujar Ermina, yang tidak mau mematenkan formula EKD. Sebaliknya ia berbagi resep dan cara pembuatannya. Atas gagasan petani di Magelang, ia juga mendirikan EKD Institute, tempat berbagi dan berjuang demi terwujudnya Indonesia sebagai lumbung pangan dunia. Adapun resep dan cara pembuatan formula EKD mudah. Diawali dengan membuat ragi dari akar pinang, akar alang-alang, kunyit, temulawak, lengkuas, serai, merica, cabai rawit, cengkih, kayu manis, tembakau, cabai jawa, kapulaga, adas manis, jintan, bawang putih, dan pala. Semua bahan diaduk, ditumbuk halus, dicampur air, disaring dan dicampur tepung beras. Kemudian digerus halus dengan kadar air 30-40 persen membentuk adonan yang dapat dibentuk bulat sebesar bola pingpong, lalu ditekan bagian tengahnya. Bisa juga ditambah ragi siap pakai. Setelah itu adonan dibiarkan di nampan dalam posisi ditutupi kain rapat-rapat, didiamkan dua hari lamanya, lalu dijemur 10 hari. Jadilah ragi. Ragi inilah yang digunakan untuk berbagai keperluan. Pengolahannya bermacam, di i antaranya dengan memadukannya bersama tape ketan Use Kabari to increase your business through Multi Media Channels. 1-800-281-6175