Majalah Digital Kabari Vol: 64 Juni - Juli 2012 - Page 37

[indonesia] orang Islam. Namun, pada saat bersamaan tidak cukup “siap” melaksanakan keseluruhan syariat Islam secara lengkap akibat masih kuatnya pengaruh paham kepercayaan lama dari era Majapahit (Kejawen). Di tengah keseluruhan perdebatan itu, ajaran Syekh Siti Jenar memang ada, dan dia lantas dihukum mati dengan dipancung. Ajaran SSJ dianggap dapat mengguncangkan umat Islam sehingga dikawatirkan akan mengganggu stabilitas kerajaan. Artinya, dasar yang digunakan untuk menyatakan sesat itu lebih karena “terganggunya kestabilan sebuah kekuasaan”. Kisah sosok Syekh Siti Jenar (SSJ), hingga kini masih dipertanyakan. Satu sisi banyak pihak yang meyakini (terutama para penganut ajarannya) bahwa tokoh ini memang sungguh-sungguh ada. Di pihak lain ada yang percaya,bahwa SSJ sebenarnya tak pernah sungguhsungguh ada. Siapa sebenarnya Syekh Siti Jenar? SSJ (juga dikenal dengan nama Syekh Lemahbang) adalah seorang tokoh yang dianggap sebagai sufi dan salah seorang Walisongo. Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya. Cara hidup sufi yang diajarkan SSJ dinilai bertentangan dengan ajaran Walisongo. Pertentangan praktik SSJ dengan Walisongo terletak pada penekanan syariah (menjalankan hukum-hukum agama seperti salat, zakat, dan lain-lain) yang dilakukan oleh Walisongo. Sedangkan ajaran Syekh Siti Jenar telah jauh memasuki tahap hakekat (dimana hakekat dari manusia dan kesejatian hidup akan ditemukan), bahkan makrifat (kecintaan kepada Allah dengan makna seluas-luasnya kepada Allah). Oleh karena itu, ajaran yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar diberi label sesat. Sebagian umat Islam menganggapnya sesat, karena ajarannya yang terkenal yaitu Manunggaling Kawula Gusti. Arti dari Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan bercampurnya Tuhan dengan makhlukNya, melainkan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah bersatu dengan Tuhannya. Ada juga sebagian lain menganggap, bahwa SSJ adalah seorang intelektual yang telah memperoleh inti ajaran Islam itu sendiri. Ajaran ini lebih sebagai ungkapan keinginan sebagian orang Jawa (masa lalu) yang di satu sisi telah memeluk agama Islam dan ingin diakui sebagai Latar belakang pemahaman dan pendekatan seperti itulah Teater Syahid memilih judul “Syekh Siti Jenar-Babad Geger Pengging” karya Saini KM untuk dipentaskan kali ini. Sebenarnya, ada naskah lain tentang SSJ yang ditulis Vredi Kastam Martha dengan judul “Syeh Siti Jenar”. Namun, karena alasan pemahaman dan pendekatan itu, karya Saini KM dipandang lebih cocok. Dalam pementasannya, sutradara Arie Batubara terlihat ingin mencairkan judul yang “berat” itu dengan menampilkan sosok Walisongo dengan atribut kekinian. Misalnya, Sunan Muria membawa tas kantor gaya masa kini, lantas Sunan lain membawa laptop dll. Lakon ini bisa dikatakan berat, karena sedikit banyak soal perbedaan ajaran yang peka. Di masa lalu, kejawen dianggap faham yang sangat kuat di masyarakat dan bercampur dengan agama yang masuk. Pementasan teater ini, dengan sadar memanfaatkan peluang bahwa ini bukan lakon tentang sejarah atau ajaran yang diberikan sang pengarang. Sehingga, Teater Syahid pun tidak terjebak untuk bernyinyirnyinyir dengan sejarah dan ajaran. Teater mahasiswa dengan segala kemampuannya, menjadi penterjemah yang baik untuk menggambarkan cerita ini dengan baik. Musik yang dikerjakan oleh Embie C Noer pun membawa nuansa tegang di beberapa bagian. Akhirnya, kelihatan sekali bahwa pentas yang ditampilkan ini bukanlah ungkapan tentang kenyataan-kenyataan, melainkan sebuah “cerminan (refleksi) pemikiran”. Sehingga untuk itu, setiap orang bebas mengembangkan imajinasi berpikirnya. n (1002) Untuk share dan memberi komentar pada artikel ini, Klik www.KabariNews.com/?38246 Rumah Baru di Amerika? Anda bisa dapatkan Data GRATIS Rumah BARU yang sedang di JUAL. Tolong beri Kota Pilihan Anda dan Tingglkan Email Anda di 1-800-734-4021, Tekan 196. Ca Dpet of Real Estate 01439375 KabariNews.com #64, Jun - Jul 2012 | 37