Majalah Digital Kabari Vol: 64 Juni - Juli 2012 - Page 18

[indonesia] Cekoslovakia (1998). Ada juga karya Asep Kusdinar yang berjudul Novi yang masuk nominasi dalam Festival Film Henry Langlois di Perancis pada tahun yang sama. Setahun berikutnya, lima film pendek Indonesia ikut tampil di Singapore International Film Festival. Kelima film pendek tersebut adalah film Novi karya Asep Kusdinar, Jakarta 468 karya Ari Ibnuhajar, Sebuah Lagu garapan Eric Gunawan, Revolusi Harapan kreasi Nanang Istiabudhi, dan Bawa Aku Pulang buah karya Lono Abdul Hamid. dalam menegakkan perfilman nasional yang mandiri dan bermartabat sesuai kepribadian bangsa. Gigih dalam menghadapi serangan para pemodal besar film yang sering memaksakan kehendak pasar. Jadi dapat dikatakan, bahwa saat film nasional mengalami kelesuan dan kemunduran kualitas, film independen malah menjadi duta film Indonesia di peringkat dunia. Prestasi yang membanggakan komunitas mereka, meski jarang dihargai oleh komunitas perfilman dan media, semakin membuat mereka percaya diri. Istilah “film independen” di Indonesia pertama kalinya dipopulerkan oleh Komunitas Film Independen (Konfiden) yang berdiri pada 1999. Organisasi ini dideklarasikan dengan mengadakan kegiatan Festival Film dan Video Independen di Indonesia, yang sudah dilakukan dua kali, tahun 1999 dan 2000. Momen yang pernah diselenggarakan SCTV dengan Festival Film Independen Indonesia (FFII) 2002, nyata sekali merupakan tanda mulai bergairahnya para pembuat film independen. Kebanggaan akan independensi dan kreativitas tampaknya menjadi faktor cukup penting yang membuat komunitas-komunitas film ini hingga sekarang terus berkembang. Perkembangan paling pesat berasal dari daerah kampus, kemudian mulai menular di kalangan pelajar. Juga ada tokoh-tokoh perfilman yang cukup inspiratif dan dikenal gigih dalam berjuang untuk film Indonesia dengan tingkat independensi yang luar biasa, seperti Mira Lesmana, Rudi Soedjarwo, Hary ‘Dagoe’ Suharyadi, Nanang Istiabudhi, dll. Mereka memacu terus tumbuhnya semangat kemandirian bagi budaya penciptaan film. Sebetulnya sistem mandiri ini sudah pernah dirintis oleh Umar Ismail pada tahun lima puluhan. Usmar Ismail dikenal sebagai tokoh yang amat gigih 18 | KabariNews.com Masa Reformasi membuka peluang besar bagi film independen untuk lebih berkembang. Apalagi di era globalisasi terbuka lebar untuk melakukan interaksi dengan peminat film luar negeri. Termasuk untuk menampilkan karya di mancanegara. Di luar negeri, ruang memang amat lebar bagi film independen. Ada berbagai festival yang amat demokratis dan terbuka bagi film independen dari manapun. Salah satu contoh adalah Sundance Film Festival yang merupakan festival film independen yang dilangsungkan di Salt Lake City. Festival ini dicetuskan oleh Sterling Van Wagenen dan John Earle. Festival ini memberikan kesempatan luas bagi para pekerja film independen untuk mempertontonkan karyanya sekaligus bersaing dalam sebuah kompetisi. Masih di Utah, aktor dan pekerja fim terkenal, Robert Redford pada tahun 1981 membentuk organisasi non-profit yakni, Sundance Institute. Tujuannya adalah untuk memberikan bimbingan bagi para pembuat film independen dari seluruh dunia agar bisa mengembang kan kar ya-kar ya mereka. Hingga kini Sundance Film Festival menjadi salah satu barometer bagi perkembangan f ilm-f ilm independen di dunia. n (1002) Untuk share dan memberi komentar pada artikel ini, Klik www.KabariNews.com/?38232 INGIN ANAK ANDA BELAJAR BAHASA INDONESIA? Kabari sedang mempersiapkan kursus Bahasa Indonesia di San Francisco dan Los Angeles. Untuk informasi lebih lanjut, silakan email Kabari ke Info@KabariNews.com Kabari is the only Indonesian Magazine in the U.S that has the most website visits (Source: Alexa.com)