Majalah Digital Kabari Vol: 64 Juni - Juli 2012 - Page 16

utama Film Independen MENCARI RUANG BUDAYA S E M A K I N BERKEMBANGNYA T EK NOLOGI DIGITAL, TIAP ORANG KIAN MUDAH MEMBUAT FILM. Inilah salah satu faktor penyebab berkembangnya film independen (film indie) atau film pendek di Indonesia. Tapi tak semua orang yang membuat film itu disebut sebagai pekerja film indie. Penger tian independen adalah sifat mandiri, tidak terikat oleh berbagai suatu yang menghambat kreativitas, tidak terbebani oleh pendanaan, mandiri dalam memutuskan dan mencari gagasan. Dikatakan film independen, karena film dibuat bukan untuk pihak yang mencari keuntungan, sistem peredaran film diusahakan mandiri, tak tergantung pada distribusi pasar film yang dikuasai jaringan bioskop bermodal besar. Para pembuat film indie sudah merasa puas jika bisa berproduksi, meski kadang memakai peralatan seadanya. Kadang mereka tidak menggunakan kamera profesional atau kamera digital yang baru. Dengan handycam biasa pun bisa jadi film. Pemainnya juga sering rela tidak dibayar. Selain itu, para pembuat film independen juga seringkali mengaku, bahwa mereka tak tergantung pada teori-teori dan teknik pembuatan film yang ada. Tetapi tak jarang ketika tampil dalam festival, teknik pembuatan film yang mereka hasilkan membuat para juri (yang kebanyakan adalah ahli sinematografi) berdecak kagum. Selain itu, tema yang dipilih dari pilihan gambar yang ditampilkan juga berbeda. Memang, para pekerja film independen rata-rata adalah kalangan kaum muda yang tak terlalu suka pada ideologi di film-film terkenal di Indonesia yang biasanya dibuat untuk sekedar laku dan laris, hingga filmnya berisi kisah-kisah yang merusak akal sehat dan menghilangkan daya kritis. Kalau ditelusuri sejarahnya, sejak tahun 1980-an film independen sudah mulai muncul. Sebuah forum bernama Forum Film Pendek (FFP) yang didirikan oleh anak-anak muda di Jakarta (sebagian besar dari kampus Intitut Kesenian Jakarta (IKJ), Universitas Indonesia (UI), dan Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP)) mulai mendiskusikan dan membuat karya film-film pendek. Kegiatan mereka adalah melakukan kritik terhadap perfilman nasional dan dilakukan juga di luar Jakarta seperti di Bali, Medan, dan Lombok. Kelompok ini juga mulai aktif membangun jaringan dengan komunitas film pendek di luar negeri. Pada pertengahan tahun 1980-an wartawan dan satrawan Seno Gumira Adjidarma melakukan gerakan ‘Sinema Gerilya’. Di situ, Seno menyerukan agar digiatkan gerakan membuat film alternatif yang diharapkan bisa menggantikan posisi perfilman nasional yang sedang lesu. Sejak tahun 1990-an, ternyata beberapa film independen karya anak muda tanah air sudah kelihatan mendapatkan penghargaan di luar negeri. Pada tahun 1998, Nanang Istiabudhi dengan karyanya Revolusi Harapan memperoleh medali emas untuk kategori Amateur dalam The 39th Brno Se x ten Inter nat ional Competition of NonComercial Feature and Video di Republik Asuransi Kesehatan lewat Blue Shield, 16 | KabariNews.com Klik www.TryApril.com atau 1-800-281-6175, April Insurance Agency, Blue Shield Authorized Agent, Ca Dept of Insurance 0659943 Sejak 1984