Majalah Digital Kabari Vol: 64 Juni - Juli 2012 - Page 12

kisah mistik yang disuguhkan dengan bantuan animasi yang bukan hanya jelek, tetapi lucu dan jadi bahan tertawaan, karena kualitasnya amat rendah menghasilkan penggambaran yang tidak bagus di film. Secara teknologi kita tertinggal amat jauh untuk menggambarkan penampilan dalam film. Bandingkan, penampilan rajawali yang ditunggangi Brama Kumbara dalam Saur Sepuh dengan burung naga di film How To Train Your Dragon atau Avatar. Jelas perbedaannya luar biasa timpang. menggambarkan bagaimana nilai-nilai hak asasi manusia dan demokrasi lahir dari kelas petani pemberontak. Belum lagi film The Patriot yang dibintangi Mel Gibson, menggambarkan heroisme yang kental. Paling terkenal adalah film Troy sebuah film sejarah tentang cinta, kekuasaan, dan kepahlawanan. Yang mengagumkan dari film ini salah satunya adalah, bagaimana suasana perang digambarkan secara luar biasa. Ribuan tentara dari kedua belah pihak (Troya dan Yunani) berlari, menyerbu dengan perisai dan pedang di tangan, tampak seperti laron berhamburan yang sedang bertumbukan dari dua arah yang berlawanan, lalu bertemu di medan perang. Penampilan Kuda Troya yang legendaris, juga menjadikan film ini sebagai gambaran tentang taktik perang yang canggih yang pernah ada dalam sejarah Barat. Pembuatan film ini menghabiskan biaya yang jumlahnya sangat besar, US$180 juta, menjadikan Troy sebagai film yang paling mahal. Membandingkan film kolosal buatan luar negeri dengan buatan Indonesia, rasanya seperti membandingkan antara dua hal yang jelas tidak setara. Di Hollywood, misalnya, pembuatan film kolosal selalu menarik dan pembuatnya berhasil menampilkan hal yang mengagumkan. Film tersebut ditonton oleh masyarakat seluruh dunia, yang pada akhirnya masyarakat dunia akan tahu, bahwa Barat dari dulu hingga sekarang memang bangsa yang jaya. Kejayaan dan keunggulan itu bisa semakin besar, karena citra film-film kolosal semacam itu. Mungkin, karena teknologinya yang ketinggalan inilah, film Indonesia belakangan tak berani menyuguhkan film kolosal atau film tentang dunia “kesaktian jaman kuno” atau kisah perang jaman kerajaan. Cerita kolosal tetap semarak di televisi, seperti Tutur Tunular (dengan tokoh Arya Kamandanu) atau judul-judul lainnya, tetapi kualitas animasinya sangat rendah. Kisah dan dialognya pun kurang bermutu. Maka untuk bisa menyamai Hollywood, mungkin Indonesia masih bermimpi. Bukan hanya masalah teknologi, tapi mentalitas pekerja film. Semangat yang kuat akan membuat pekerja film gigih untuk mengembangkan apa saja. Kita bisa belajar pada pekerja film Barat yang memang selalu total dalam menciptakan karya. Perbandingannya bisa kita lihat dari apa yang dilakukan James Cameron ketika membuat film Avatar yang luar biasa itu. Film ini menggunakan teknologi ComputerGenerated Imagery (CGI), animasi 3D dan efek visual yang bekerja sama dengan Weta Digital asal Selandia Baru. Gambarnya diambil dengan sistem kamera fusion 3D dan sentuhan resolusi film 3D tingkat tinggi dari Los Angles Studio. Hasil ini kemudian diterjemahkan ke dalam komponen film. File-file inilah yang kemudian di simpan di storage oleh Isilon IQ. Salah satu contohnya adalah ras Na’Vi (makhluk pribumi penghuni Pandora yang Laporan Gratis: Apa yang Anda perlukan sebelum konsulatasi dengan Pengacara? 24 Jam Rekaman, 1-800-734-4021, tekan 1833 Sedangkan di negara kita? Film kolosal masih tetap mengandalkan 12 | KabariNews.com Apple to Apple Kabari guarantees the lowest ad price with much better value.