Cakrawala Edisi 423 Tahun 2014 - Page 37

• Meningkatkan kemampuan SDM dalam rangka mewujudkan TNI AL Kelas Dunia. Pengembangan diarahkan pada pengawak sistem logistik dengan kemampuan, kompetensi dan kualifikasi yang dapat menyesuaikan dengan perkembangan teknologi dan lingkungan. Strategi tersebut dilakukan dengan upaya yang meliputi; Pertama, Membangun karakter SDM (character building) yang selalu memiliki dedikasi, loyalitas, mencintai tugas dan bertanggung jawab serta tidak cepat merasa puas terhadap suatu keberhasilan; Kedua, Mempersiapkan personel pengawak sistem logistik yang mempunyai kualifikasi dan kompetensi melalui pendidikan baik dari dalam maupun luar negeri; Ketiga, Menyiapkan personel yang memiliki kemampuan kompetitif dan keunggulan, sejak proses penerimaan (recruitment) melalui kerja sama dengan lembaga pendidikan lain untuk mendapatkan dan mencari bibit unggul (personel berkualitas); Keempat, Melaksanakan sertifikasi personel yang meliputi berbagai aspek logistik melalui peningkatan fasilitas dan sarana pendidikan, seperti : pengelasan bawah air, pemeliharaan tingkat overhoul, pengelasan dan pembangunan kapal alumunium, serta penyelamatan kapal (PEK); Kelima, Menyiapkan pendidikan dan pelatihan dalam dinas untuk tingkat operator dan instruktur secara bertahap, bertingkat, berlanjut dan berkesinambungan, Keenam, Menyusun konsep roadmap pendidikan dan pelatihan personel sebagai pengawak logistik yang profesional; Aviation survival and underwater escape facilities Ketujuh, Menyiapkan fasilitas alat instruksi (alins) di lembaga pendidikan yang bersifat praktikal dan teknis serta mengikuti perkembangan teknologi, seperti pusat pelatihan teknik TNI AL (naval technical training centre), simulator kapal selam (submarine simulator), fasilitas penyelamatan aviasi dan bawah air (aviation survival and underwater escape facilities) dan simulator ruang mesin (engine room simulator), kerjasama dan MoU dengan Naval Post Graduate School (NPS) Monterey USA. • Menajamkan fungsi organisasi dalam rangka mewujudkan TNI AL Kelas Dunia. Penajaman fungsi dibutuhkan seiring dengan tujuan untuk membangun organisasi yang terintegrasi dan bersifat interkonektifitas mulai dari proses penentuan kebutuhan sampai dengan penghapusan. Strategi tersebut dilakukan dengan upaya yang meliputi; Pertama, Melaksanakan validasi organisasi logistik melalui pemisahan organisasi pembina material dengan pengguna material, dengan mewujudkan konsep organisasi Koharmatal sebagai embrio organisasi logistik; Kedua, Penajaman fungsi organisasi dan pengembangan Fasharkan disesuaikan dengan pangkalan dan gelar operasi serta tingkat kemampuan dalam penyiapan Alutsista. Sehingga kemampuan Fasharkan diarahkan sebagai Fasharkan home base (dockyard Facility), Fasharkan aju (maintenance facility) dan Fasharkan yang memiliki kemampuan produksi kapal (production facility); Ketiga, Penajaman fungsi dan peningkatan organisasi serta fasilitas pembekalan baik dukungan bekal pemeliharaan, operasi maupun bekal personel; Keempat, Meningkatkan peran Dewan Penentu Pengadaan (Wantuada) sebagai penentu kebijakan pengadaan logistik TNI AL dan Kelima, Mengembangkan Mou dan kerjasama dengan instansi terkait seperti Pertamina (untuk dukungan BMP), Biro Klasifikasi (untuk penentuan kelas KRI) dan galangan kapal (untuk pemeliharaan dan pembangunan Alutsista). • Mengoptimalkan operasi dalam rangka mewujudkan TNI AL Kelas Dunia. Melalui strategi ini diharapkan akan terwujud sistem dukungan logisitik yang bersifat: readiness, sustainability, responsive dan interoperability, strategi tersebut dilakukan dengan upaya yang meliputi; Pertama, Menyusun konsep gelar logistik yang dapat mendukung armada tempur TNI AL sesuai konsep world class navy, melalui penerapan latihan gelar logistik berupa LOG-1 sampai dengan LOG-4, yang setara, seiring dan terkoneksitas dengan L1-L4, U1-U4, M1-M4 dan P1-P4, Kedua, Penajaman konsep JOP dan JOG yang diselaraskan dengan perubahan pola operasi saat ini, jam putar peralatan, waktu operasi dan ketersediaan dukungan bekal, khususnya bekal cair BMP, Ketiga, Mewujudkan sistem jaringan dukungan logistik (network centric logistic system) yang bersinergi dengan matra lain dan memiliki interkonektivitas dengan sistem IMS yang sudah ada, Keempat, Mengembangkan pola interkonektivitas dukungan logistik sehingga mampu bersinergi dan bersifat interoperabilitas dengan instansi lain, termasuk kemampuan melakukan akses ketersediaan dukungan serta proses pengajuan kebutuhan secara terkomputerisasi dan online, dan Kelima, Membangun fasilitas sistem informasi logistik yang disesuaikan dengan pola operasi dan pola gelar logistik yang ada. Kebijakan pemimpin TNI AL dalam mewujudkan Angkatan Laut Indonesia berkelas dunia (world class navy) linier dengan kebijakan pemimpin nasional dalam mewujudkan kembali kejayaan maritim Indonesia yang tertuang dalam Konsep Poros Maritim Dunia. Kebijakan world class navy diwujudkan dengan upaya memperkuat kemampuan personel dan kekuatan Alutsista TNI AL, serta sarana pendukungnya seiring dengan perkembangan lingkungan strategis yang dinamis. Untuk mendukung visi dan misi Angkatan Laut berkelas dunia (world class navy) dalam bidang logistik dapat dicapai melalui peningkatan dalam beberapa hal antara lain pengembangan teknologi, peningkatan kemampuan SDM, penajaman fungsi organisasi dan kesiapan logistik dalam mendukung kegiatan operasi. Dukungan tersebut diperlukan untuk mewujudkan kehandalan Alutsista (reliability), ketersediaan Alutsista (availability) dan keterpeliharaan (maintainability), kualitas kesiapan dan kehandalan Alutsista (readiness and reliability) melalui konsep pemeliharaan, pembekalan dan peningkatan fasilitas pangkalan yang dilakukan secara terintegrasi antar sesama institusi pelaksana pusat dan antar institusi pelaksana pusat dengan institusi kotama. Kebijakan poros maritim yang )